Postingan

Menghadapi Babak Baru

Kebingungan memahami dan mengembangkan potensi diri, menggiringku mengikuti suatu workshop pencarian jati diri. Apalagi kelebihan yang ditawarkan adalah dibimbing seumur hidup oleh mentornya (Psikolog), tambah saja membuatku penasaran mengikutinya.  Singkat cerita, selesai acara, aku jadi lebih memahami arah potensiku mau dibawa kemana. Namun, sejak memahami hal tersebut, seketika isi kepalaku menjadi penuh dengan pertanyaan tentang arah hidupku kedepannya. Terutama menyangkut pekerjaan yang kulakukan saat ini.  Dan esoknya, aku mulai bekerja lagi. Setibanya di klinik, aku bertemu dengan partner kerja baru, karena salah satu temanku sudah resign. Suasana di tempat kerja pun terasa berbeda, ditambah isi pikiranku masih menyangkut tentang arah perkembangan potensiku.  Entah kenapa, hatiku merasa sedih. Apalagi jika membayangkan, kehidupanku akan berubah drastis ketika aku benar-benar menekuni bidang baru. Rasanya baru kemarin aku merasa bahagia karena bertemu men...

Menyudahi Kesendirian

Memahami diri lebih dalam, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, juga effort yang lebih. Saat aku memilih untuk fokus bekerja, ternyata membuatku menjadi mudah jenuh dan bosan. Karena memang tak ada kegiatan lain.  Mengingat saat kuliah pun aku so' so'-an berniat untuk fokus kuliah, padahal ga fokus fokus amat, IPK pun B aja. Tapi memang pada saat itu jadwal kuliah di kampus betul-betul padat sekali, dan organisasi yang ada kurang menarik minatku. Hmm.. oke, aku pun berpikir agar memiliki kegiatan lain. Rencanaku bisa ikutan workshop, seminar, training, jadi relawan dll. Yang memang bisa meningkatkan pemahaman, wawasan, dan skill selain bekerja.  Tapi.. karena jadwalku masuk & libur kerja itu ga tentu setiap minggunya, biasanya setiap ada acara yang ingin ku ikuti sangat jarang yang sesuai dengan jadwalku libur.  Akhirnya, akupun memutuskan untuk belajar lewat buku dulu, karena yang paling fleksibel untuk belajar ya dengan membaca buku. Namun...

Apa yang Salah dengan Belajar?

Apa yang salah dengan belajar? Selama yang dipelajari bukanlah ajaran sesat dan terlarang. Aku suka belajar, aku suka mempraktekkannya. Dan ketika yang kulakukan sudah mentok, maka saatnya menemui guru. Ia yang lebih dulu mengalami dan melakukan. Ia yang lebih dulu mempelajari. Ia yang ilmunya lebih dalam, lebih luas. Dan akupun adalah manusia yang dianugerahi akal. Informasi yang kudapat kucoba cerna dengan baik. Dikunyah dengan halus, bukan ditelan bulat-bulat. Aku sedang belajar dan berproses. Plis.. kalau tak bisa mendukung, setidaknya jangan mencaci. Kita sama... ber-nenekmoyang Nabi Adam dan Siti Hawa yang berasal dari surga. Aku ingin kembali dengan keadaan sebaik-baiknya.

Selamat!

Mungkin kau belum mengenaliku dengan sebenar-benarnya. Apa yang kau rasa belum paham, karena kau masih di permukaan. Sejujurnya, tak ada niatku memusuhi, mengejek ataupun menjelekkan. Namun, kau pancing emosiku naik pitam. Tak kuasa aku menahan balasan. Maka kini, terimalah sudah apa yang telah kau lempar umpan. Kau telah mendapatkannya. Mungkin, ini juga balasanku dari Tuhan. Karena rasa yang terlalu dalam di permulaan.

Melepas Kacamata

Melepas kacamata, menjadi momen paling ditunggu bagi pemakai kacamata pemula sepertiku. "Kacamatanya harus dipakai dulu, dilepas hanya saat mandi, sholat, wudhu, sama tidur ya!" seru seorang dokter mata di depanku kala itu, nadanya tegas, kata-katanya lugas, matanya pun terbuka dengan lebar sambil melihat fokus ke arahku. Aku pun merasa benar-benar di perhatikan dan dinasehati dengan sangat. Sebenarnya, aku telah mengalami penglihatan buram ini dari sekitar kurang lebih 3 tahun lalu. Awalnya, aku hanya memakai kaca mata saat kuliah saja, karena aku merasa kepentingannya hanya disitu. Dan lagi, itu terjadi saat semester akhir, yakni semester dimana waktu belajar di kelas sudah sangat jarang sekali dilakukan. Juga ada alasan lain, aku merasa dengan memakai kacamata, aku kehilangan wajahku yang sebenarnya. Karena wajahku menjadi lebih lebar dengan memakai kacamata. Pernah suatu ketika, saat aku mengikuti kegiatan menjadi relawan PON, otomatis saat itu aku bertemu dengan o...

3 Jenis Pertanyaan

Aku ingat saat zaman sekolah dulu, kalau tidak salah aku mendengarnya dari seorang guru, beliau berkata "pertanyaan itu ada 3 macam, yang pertama bertanya karena tidak tahu, yang kedua untuk membandingkan jawaban, dan yang ketiga untuk mengetes". Lalu aku pun berpikir, sepertinya aku akan selalu menjadi jenis yang pertama, karena gaada bayangan aja untuk jenis kedua dan ketiga bagiku saat itu. Dan untuk jenis pertama pun aku tak tahu, karena aku merasa belum berpikir kritis dan memiliki banyak pertanyaan untuk diajukan.  Seiring berjalannya waktu, berawal dari pengalaman pahit yang aku alami, aku pun berusaha untuk memahami diri sendiri dan kehidupan yang kujalani. Hingga muncullah banyak pertanyaan tentang pilihan-pilihan hidup dan keputusan yang akan mempengaruhi masa depan.  Sedikit demi sedikit aku mulai memahami akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan memusingkan itu. Namun, sesekali pertanyaan itu muncul kembali, sambil terus bertanya akan keyakinan diri, "Ap...

Suara Hati

Ayah.. Ibu.. kulihat wajahmu menirus.. Kulitmu mengendur .. Rambutmu berkurang.. Nafasmu semakin melambat.. Suaramu semakin berat.. Saat itu aku menyadari.. Kau dan aku semakin menua.. Itu adalah hal pasti yang baru ku maknai.. Lalu aku pun bertanya, apa yang telah kulakukan selama ini? Membanggakannya? Membahagiakannya? Kukira, bukan sekedar harta yang mereka pinta. Bukan sekedar pujian dari tetangga. Bukan sekedar jabatan dalam bekerja. Tetapi, apakah aku mempedulikan mereka sebagaimana seharusnya? Apakah aku mengamalkan kebaikan yang mereka ajarkan? Karena dari sanalah nama baik terbawa, dari amal perbuatan kita. Teringat nenek moyang yang telah tiada. Aku pun membayangkan, apa yang kan membuat mereka bangga memiliki aku sebagai cucunya. Lalu aku pun menyadari, kembali pada kebaikan yang kulakukan. Kuingin mereka tersenyum disana. Dimulai dari hal terkecil dalam diri. Hal terdekat dengan diri. Kuingin memperbaiki. Meski ada saja celah lalainya. Ada saj...

Sebelum Menulis & Kunci Rezeki

Waktu menunjukkan pukul 16.48 WIB, waktu yang pas buat ngabuburit. Aku sedang scroll timeline facebookku, dan aku membaca beberapa postingan yang aku share terakhir kali. Saat aku membacanya ulang, aku jadi teringat sesuatu. Dulu, saat aku memutuskan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik, aku tak tau harus mulai darimana. Hingga akhirnya, aku memulai dari dunia maya, dan saat itu belum booming instagram, jadi yang rutin kupakai itu facebook.  Saat itu, aku rajin sekali membaca dan menshare postingan-postingan yang ngena banget di aku, salah satunya adalah postingan tere liye. Saat itu aku berpikir, meskipun aku masih belum seperti mereka, tapi setidaknya, dengan aku menjadi follower mereka, aku bakalan kecipratan sedikitnya pemikiran-pemikiran positif mereka. Sebagaimana bulan yang memantulkan cahaya matahari.  Dan aku pun tak menyangka, dulu aku yang hanya sebagai penyuka tulisan mereka, kali ini aku bisa sedikitnya menulis seperti itu. Meski masih sangat jauh s...

Dibalik Tantangan Menulis 30 Hari

Gambar
Gambar via plimbi.com Sebagai seorang karyawan yang ga sibuk-sibuk amat, saya berusaha memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya. Diantaranya yaitu dengan membaca buku, dan sekali-kali menulis. Jenis tulisannya masih random , jadi aku hanya menuliskan hal-hal yang memang meggelitik pikiranku saja.  Dan alhamdulillahnya, ada orang-orang yang dengan giat mengajak dan menantang  untuk menulis selama 30 hari berturut-turut di bulan Ramadhan ini. Aku menemukannya dari postingan seorang teman di sosial media, yang sama-sama tergabung di grup kepenulisan. Awalnya aku ragu, dan sempat menimbang-nimbang untuk ikut, karena takutnya ga bisa konsisten. Tapi setelah di pikir-pikir, sepertinya aku harus mencobanya, karena kalau ga dicoba, gaakan tau bisa dilewati atau nggak. Justru dari situ aku bisa menilai, seberapa kuat sih keinginan untuk menulis? Dan seberapa mampu diriku untuk menulis.  Aku pun mengikuti tata cara pendaftarannya, dan tegabung di grup Whatsapp . Jadi s...

#Day1 #RamadhanBerkisah - Arti Memberi Bagiku

Gambar
Ketika mendengar kata memberi, sejenak yang terlintas dalam benakku adalah pepatah "tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah". Namun, terbesit pertanyaan "bagaimana jika keadaan kita sedang di bawah? Masih bisakah memberi?". Sejauh yang kuamati, tentu bisa. Kita bisa memberikan perhatian, kasih sayang, tenaga, motivasi, dlsb. Misalkan, memberi kabar pada orang tua, saudara, bertegur sapa dengan tetangga, dlsb. Rasanya tidak kalah menyenangkan kok dibandingkan memberi dalam bentuk harta/benda 😊. Aku sangat mengagumi mereka yang dengan mudah selalu memberi kepada yang membutuhkan, baik dalam bentuk tenaga ataupun materi, sangat terlihat sekali semangat berbaginya tinggi. Mungkin karena itu pula lah Allah menyuruh kita untuk bersilaturahmi, bahkan senyum kita kepada sauara kita dinilai sebagai sedekah. Karena kita pun bisa merasakan, ketika kita sedang di rundung duka, tetapi dengan adanya sahabat yang hadir menemani dan menguatkan, sejenak terasa ...

Sajak: Bukan Siapa-Siapa

Aku memang bukan siapa-siapa. Aku adalah hamba Allah. Yang sedang berkelana disini. Takkan lama, katanya, paling lamapun usiaku hanya 40 tahunan lagi. Aku adalah manusia yang banyak takutnya, khawatirnya. Namun ada Allah pemilik segalanya. Sangat mudah bagi-Nya memberi apa yang kumau. Tugasku hanyalah meminta dan berusaha, karena itu sunnatullahnya. Dan bertawakal pada hasilnya.  Dan harus selalu kuingat, ada surga yang didalamnya melebihi apa yang kuinginkan saat ini. Maka cita-cita tertinggiku menggapai surga, meski dengan kesadaran penuh aku banyak dosa. Ah, manusia. Khilaf dan alfa merupakan kesehariannya. Tidak mudah memang, sangat tidak mudah. Bagaimana tidak? Setan menggoda selalu, dari berbagai sisi, kiri, kanan, depan dan belakang. Dan terkadang aku lupa, jika atas dan bawah tak ada mereka. Ya, mungkin itu keberhasilannya, membuatku lupa, bahwa masih ada cara untuk menghindari godaannya. Aku adalah manusia, yang sering sekali malasnya. Namun aku berkhaya...

Sajak: Bukan Karena

Bukan karena gak kuliah di luar negeri, hidupku tak istimewa. Bukan karena gak dapet beasiswa, hidupku biasa saja. Karena sejatinya, dimanapun keberadaanku, dengan siapa aku disana, aku tetap bisa melakukan hal terbaikku. Bukan karena gak kerja di instansi bergengsi, nilaiku tak ada. Bukan karena besarnya jumlah gaji, yang menentukan strata. Tapi sejatinya, dimanapun tempatku bekerja, tetap dinilai ibadah jika benar niatnya. Dan sejatinya pula, keberkahan tak melihat nominal. Dengan apa yang kulalui, apakah aku memahami untuk apa aku berada? Dengan apa yang kudapati, apakah ku mengerti akan kehalalannya? Lalu, jika ya, sudahkah ku mensyukurinya? Lalu, jika ya, sudahkah ku gunakan sesuai aturan-Nya? Ternyata, hidup itu bukan hanya mengisi biodata. Perihal identitas yang tertera, perihal tingkat sosial ekonomi yang bersahaja. Jika direnungkan, sungguh berat. Tanggung jawab setiap detik yang terlewat, setiap kata yang terucap, setiap laku yang ku buat. Memang ternyata,...

Sajak: Katanya, hidup itu tak boleh hanya sekedar mengalir

Gambar
Gambar via wisatamu.xyz Katanya, hidup itu tak boleh hanya sekedar mengalir. Baiknya ia dilewati dengan perencanaan yang matang. Namun semakin kucoba merencanakan, semakin ku pusing. Mungkin hidup terencana memang baik, bagi yang sudah tau jalurnya. Dan itu tak berlaku bagiku, saat ini. Setidaknya, bagiku mengalir itu lebih baik daripada hanya diam. Harapannya, semakin ku berjalan, semakin ku bertemu tujuan. Dan tak lupa ada banyak kemungkinan dan kesempatan di pertengahan jalan. Mungkin aku belum menemukan yang satu. Tapi setidaknya, kulakukan yang terbaik yang kutahu Untuk persembahan pada yang Maha Tahu.

Katanya, Buku Jendela Dunia

Gambar
Gambar via bukuindonesia.com Aku ingat saat aku kecil dulu, Ayahku selalu berkata "nonton TV terus, bukannya baca buku", namun karena Ayahku termasuk tipe yang santai dan tidak memaksa, alhasil kata perintah itu pun hanya numpang lewat saja di telingaku. Setiap Ayahku menyuruh untuk membaca buku, yang terbayang di benakku hanyalah buku pelajaran, yang mana aku bingung apa yang harus aku baca, karena aku merasa paham-paham saja dengan penjelasan guru di sekolah.  Kemudian beranjak saat aku remaja, saat itu aku ingin dibelikan sesuatu, namun aku lupa lebih tepatnya apa, dan saat itu Ayahku berkata "Kalau minta buat dibeliin buku mah pasti bakal dibeliin mau sebanyak apa juga", namun saat itu aku lagi-lagi bingung, "Memangnya, buku seperti apa yang harus aku baca?" tanyaku dalam hati. Karena yang ada di pikiranku jenis buku itu ada 2, fiksi dan non fiksi, dan yang ku tau fiksi itu hanyalah novel, komik, majalah dan non fiksi itu hanyalah buku pel...

Catatan Renungan: Apa yang Diajarkan Oleh Orang Tua Kepada Anaknya ?

Gambar
Gambar via pendidikan.id Apa yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya pastilah berbeda dari setiap orang. Namun, aku yakin setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, setiap orang tua pasti telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anaknya, setiap orang tua pasti mengusahakan agar nasib anak-anak mereka jauh lebih baik dari nasib mereka. Pernah suatu ketika aku berpikir ,"ya kan aku ga diajarin buat kaya gini sama orang tuaku", namun kemudian sisi lain diriku menjawab "tapi kan Zul, sekarang kamu udah punya pikiran sendiri, udah bisa mikir harusnya aku tuh kaya gimana sih? Yaudah berarti kuncinya ada di diri sendiri, mau berubah atau ngga, bukan melulu menyalahkan karena orang tua ga ngajarin kamu buat begitu". "Iya sih bener" hatiku pun menyahut. Aku pun membayangkan tentang apa yang orang tuaku alami saat dulu. Berdasarkan dari cerita-cerita ayah dan ibuku yang sepotong-sepotong. Ibuku dulunya merupakan anak bu...

Jarak Itu Tak Ada

Gambar
Gambar via hipwee.com Atasan di tempatku bekerja ialah orang yang perfeksionis, maka bisa dipastikan, kalau ada sedikit saja hal yang tidak beliau suka atau tidak sesuai dengan pandangan beliau, pasti akan di kritik panjang lebar. Pagi itu, aku sedang duduk di kursi sambil memegang hp. Hati dan pikiranku sedang tak karuan, karena selepas di ceramahi oleh atasan kami. Aku bersama partner kerjaku sedang saling menimpali mengenai apa yang telah terjadi, sambil terus  berintrospeksi diri dan mencari solusi. Tak lama kemudian, ada chat baru di WhatsAppku. Ternyata saat aku lihat chat tersebut dari adikku, dan isinya hanya memanggil "Tehhhhhh" yang artinya kakak kalau di dalam B. Indonesia. Akupun terheran-heran, karena adikku memang terbilang cukup jarang mengirimkan chat kepadaku jika memang tidak berkepentingan, terlebih lagi ini isi chatnya hanya memanggil saja, aku pun hanya bertanya-tanya dalam hati "kira-kira ada apa ya, tumben ngechat, dan isi chatnya pun sep...

Harga Sebuah Waktu

Gambar
Gambar via www.muslim.or.id Dulu aku berpikir, bahwa jika ingin sukses itu yang penting usahanya, kalau untuk urusan ibadah itu yang penting yang wajibnya ga ketinggalan, paling sekali-kali lah mengerjakan yang sunah. Namun hal tersebut berubah ketika aku mulai bekerja di tempat sekarang. Jadi, aku bekerja sebagai Bidan, di tempat Bidan Praktek, sistem kerjanya 4 hari masuk, 2 haru libur, jadi kita tinggal di klinik.  Jam pelayanannya itu gaada batasan.   Semenjak jam 5 subuh setelah solat subuh kita langsung beres-beres, dan kemudian stay di klinik. Kalau untuk pelayanan, tutupnya itu jam 9 malam, dan untuk persalinan itu 24 jam. Bidan seniornya tinggal di rumah yang berbeda di samping klinik. Jadi kalau kami jaga di klinik itu, kalau pas jam solat ya kami gantian, begitupun saat mandi, dlsb. Yang pasti klinik harus ada yang jaga. Yang jaganya itu berdua, jadi ketika yg satu orang solat atau ke toilet, otomatis yang melayani pasien hanya satu orang. Dengan sist...

Apakah Berdo'a Itu Mahal?

Gambar
Gambar via www.dream.co.id Tidak semua orang beruntung terlahir dari keluarga utuh dan berkecukupan. Jika boleh memilih, setiap orang pasti ingin terlahir dari keluarga baik-baik, berpendidikan dan cukup secara materi. Namun setiap insan memiliki ujiannya masing-masing. Ada yang diuji secara fisik, secara materi maupun non materi. Maka, yang bisa kita lakukan hanyalah berpegang teguh dan percaya secara utuh hanya kepada Allah. Karena pertolongan itu berada sangat dekat dengan kita. Hal yang sangat mudah bagi Allah untuk membukakan jalan-Nya bagi kita. Berdo'alah pada-Nya, berceritalah sepuas-puasnya hanya kepada-Nya. Ada hal yang aku renungkan, yaitu ketika aku merasa bahwa hidup begitu berat. Dan untuk berdo'a pun kadang aku bingung, ada yang bilang berdo'a itu ga boleh spesifik, harusnya terserah bagaimana Allah saja. Ada juga yang bilang berdo'a itu harus spesifik, karena kita harus tau apa yang kita mau. Yah, ujung-ujungnya, daripada aku bingung, a...

Bagiku menulis adalah..

Gambar
Dulu, aku hanya menulis saat aku risau, galau, dlsb... Sekarang, setelah aku membiasakan diri menulis, menulis seperti menjadi kebutuhan bagiku.. Terkadang, aku udah takut duluan sebelum menulis, takut apa yang aku tulis itu salah dimata orang. Namun kemudian aku tersadar, bahwa ini bukan tentang benar dan salah. Menulis adalah tentang mengungkapkan buah pikiran dan perasaan. Dan begitu dahsyatnya hal tersebut, karena ternyata pikiran dan perasaan itu nyambungnya bisa kemana-mana. Bagiku menulis adalah tentang bagaimana kita menerjemahkan, mengungkapkan, menjelaskan secara runut apa yang ingin kita sampaikan. Menulis adalah caraku berekspresi dengan tulisan. Bagiku menulis adalah kehidupan. Bagaimana sebuah cerita bisa tetap hidup dengan tulisan. Bagaimana anak cucu adam bisa mengetahui sebuah pesan yang disampaikan. Karena menulis adalah bagian dari kehidupan.

Suka Duka Berinisial Huruf Z, Bernama Panjang dan Sulit Diucapkan

Gambar
Gambar via www.bintang.com Namaku Zulfa, menurut cerita Ayahku, aku dinamai dari huruf Z karena nama Ayahku berawalan huruf A, sehingga kalau lagi di sekolah dan ada giliran buat di test itu selalu yang pertama, atau paling banter ga lebih dari urutan ke 5 atau 6. Bagi yang tinggal di Bandung, pasti ga asing mendengar nama 'Asep', ya itulah nama Ayahku. Dari pengalaman itulah, ayahku berniat kalau punya anak mau dikasih nama dari huruf Z atau huruf-huruf yang ada di deretan akhir. Katanya awalnya sempat mau diberi nama Yasmin, dari istilah Biologi. Tapi karena Ayahku ingin memberi nama dari B.Arab jadilah aku diberi nama Zulfa.  Bisa dipastikan sejak aku sekolah TK hingga aku kuliah daftar namaku selalu ada di paling akhir, karena huruf pertamanya Z dan huruf keduanya U. Kalau di absen aku sudah pasti dipanggil paling akhir, kadang ini membuatku harus sabar menunggu dan memasang telinga selalu fokus mendengar guru/dosen, karena kebanyakan yang sudah di absen dan meng...